azalea’s say


Akhirnya. . . bisa nulis lagi

setelah sekian lama ga mengisi blog,, akhirnya punya kesempatan juga untuk mewarnai blog ini…

hari-hari berlalu..

tak terasa sudah 19 tahun aku hidup

menjalani lika-liku kehidupan

serta pahit manisnya

di jalan dakwah aku mencoba menapakkan langkah kaki ku

kerikil, onak dan duri aku hadapi

“dakwah memang pahit tapi surga itu manis”

kata-kata yang membangkitkan ghirah ku

sebagai penyemangat

bahwa surga menanti mu wahai para pejuang Allah

semoga kita menjadi orang-orang yang istiqomah

berjuang menegakkan deen Allah

Allahu Akbar


istiqomah

Setiap muslim yang telah berikrar bahwa Allah Rabbnya, Islam agamanya dan Muhammad rasulnya, harus senantiasa memahami arti ikrar ini dan mampu merealisasikan nilai-nilainya dalam realitas kehidupannya. Setiap dimensi kehidupannya harus terwarnai dengan nilai-nilai tersebut baik dalam kondisi aman maupun terancam. Namun dalam realitas kehidupan dan fenomena umat, kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang memiliki pemahaman yang baik tentang Islam mampu meimplementasikan dalam seluruh sisi-sisi kehidupannya. Dan orang yang mampu mengimplementasikannya belum tentu bisa bertahan sesuai yang diharapkan Islam, yaitu komitmen dan istiqomah dalam memegang ajarannya dalam sepanjang perjalanan hidupnya.
Maka istiqomah dalam memegang tali Islam merupakan kewajiban asasi dan sebuah keniscayaan bagi hamba-hamba Allah yang menginginkan husnul khatimah dan harapan-harapan surgaNya. Rasulullah saw bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: “قاربوا وسد د وا واعلموا أنه لن ينجو أحد منكم بعمله”، قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: “ولا أنا إلا أن يتغمد ني الله برحمة منه وفضل” رواه مسلم
“Rasulullah saw bersabda: “Berlaku moderatlah dan beristiqomah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya: “Dan juga kamu Ya … Rasulullah, Beliau bersabda: “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerahNya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Istiqomah bukan hanya diperintahkan kepada manusia biasa saja, akan tetapi istiqomah ini juga diperintahkan kepada manusia-manusia besar sepanjang sejarah peradaban dunia, yaitu para Nabi dan Rasul. Perhatikan ayat berikut ini;

“Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS 11:112)

DEFENISI

Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyimpangan atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser, karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Secara terminologi, istiqomah bisa diartikan dengan beberapa pengertian berikut ini;
-Abu Bakar As-Shiddiq ra ketika ditanya tentang istiqomah ia menjawab; bahwa istiqomah adalah kemurnian tauhid (tidak boleh menyekutukan Allah dengan apa dan siapapun)
-Umar bin Khattab ra berkata: “Istiqomah adalah komitment terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang”
-Utsman bin Affan ra berkata: “Istiqomah adalah mengikhlaskan amal kepada Allah swt”
-Ali bin Abu Thalib ra berkata: “Istiqomah adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban”
-Al-Hasan berkata: “Istiqomah adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksitan”
-Mujahid berkata: “Istiqomah adalah komitmen terhadap syahadat tauhid sampai bertemu dengan Allah swt”
-Ibnu Taimiah berkata: “Mereka beristiqomah dalam mencintai dan beribadah kepadaNya tanpa menengok kiri kanan”

Jadi muslim yang beristiqomah adalah muslim yang selalu mempertahankan keimanan dan aqidahnya dalam situasi dan kondisi apapun. Ia bak batu karang yang tegar menghadapi gempuran ombak-ombak yang datang silih berganti. Ia tidak mudah loyo atau mengalami futur dan degradasi dalam perjalanan dakwah. Ia senantiasa sabar dalam menghadapi seluruh godaan dalam medan dakwah yang diembannya. Meskipun tahapan dakwah dan tokoh sentralnya mengalami perubahan. Itulah manusia muslim yang sesungguhnya, selalu istiqomah dalam sepanjang jalan dan di seluruh tahapan-tahapan dakwah.

Dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw banyak sekali ayat dan hadits yang berkaitan dengan masalah istiqomah di antaranya adalah;

“Maka tetaplah (istiqomahlah) kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS 11:112)

Ayat ini mengisyaratkan kepada kita bahwa Rasullah dan orang-orang yang bertaubat bersamanya harus beristiqomah sebagaimana yang telah diperintahkan. Istiqomah dalam mabda (dasar atau awal pemberangkatan), minhaj dan hadaf (tujuan) yang digariskan dan tidak boleh menyimpang dari perintah-perintah ilahiah.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS 41: 30-32)

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialahAllah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya;
sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.(QS 46:13-14)

Empat ayat diatas menggambarkan urgensi istiqomah setelah beriman dan pahala besar yang dijanjikan Allah SWT seperti hilangnya rasa takut, sirnanya kesedihan dan surga bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keimanan dalam setiap kondisi atau situasi apapun. Hal ini juga dikuatkan beberapa hadits nabi di bawah ini;
“قلت: يا رسول الله قل لي في الإسلام قولا لا أسأل عنه أحدا غيرك. قال: “قل : آمنت با لله ثم استقم” رواه مسلم
“Aku berkata: “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun selain engkau. Beliau bersabda: “Katakanlah : “Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah (jangan menyimpang).” (HR Muslim dari Abu ‘Amarah Sufyan bin Abdullah)

“Rasulullah saw bersabda: “Berlaku moderatlah dan beristiqomah, ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorangpun dari kalian yang selamat dengan amalnya. Mereka bertanya: “Dan juga Anda Ya … Rasulullah, Beliau bersabda: “Dan juga aku (tidak selamat juga) hanya saja Allah swt telah meliputiku dengan rahmat dan anugerahNya.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)

Selain ayat-ayat dan beberapa hadits di atas, ada beberapa pernyataan ulama tentang urgensi istiqomah sebagaimana berikut;

Sebagian orang-orang arif berkata: “Jadilah kamu orang yang memiliki istiqomah, tidak menjadi orang yang mencari karomah. Karena sesungguhnya dirimu bergerak untuk mencari karomah sementara Robbmu menuntutmu untuk beristiqomah.”

Syekh Al-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sebesar-besar karomah adalah memegang istiqomah.”

FAKTOR-FAKTOR YANG MELAHIRKAN ISTIQOMAH

Ibnu Qoyyim dalam “Madaarijus Salikiin” menjelaskan bahwa ada enam faktor yang mampu melahirkan istiqomah dalam jiwa seseorang sebagaimana berikut;
-Beramal dan melakukan optimalisasi

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS 22:78)

-Berlaku moderat antara tindakan melampui batas dan menyia-nyiakan

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS 25:67)

Rasulullah saw bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash: “Wahai Abdullah bin Amr, sesungguhnya setiap orang yang beramal memeliki puncaknya dan setiap puncak akan menglami kefuturan (keloyoan). Maka barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepada Sunnah, maka ia beruntung dan barang siapa yang pada masa futurnya (kembali) kepda bid’ah, maka ia akan merugi”(HR Imam Ahmad dari sahabat anshor)

-Tidak melampui batas yang telah digariskan ilmu pengetahuannya

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban.” (QS 17:36)

-Tidak menyandarkan pada faktor kontemporal, melainkan bersandar pada sesuatu yang jelas
-Ikhlas

“Padahal mereka tidak disuruh melainkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus.” (QS 98:5)

-Mengikuti Sunnah, Rasulullah saw bersabda: “Siapa diantara kalian yang masih hidup sesudahku maka dia pasti akan melihat perbedaan yang keras, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khalifah Rasyidin (yang lurus), gigitlah ia dengan gigi taringmu.”(Abu Daud dari Al-Irbadl bin Sariah)

Imam Sufyan berkata: “Tidak diterima suatu perkataan kecuali bila ia disertai amal, dan tidaklah lurus perkataan dan amal kecuali dengan niat, dan tidaklah lurus perkataan, amal dan niat kecuali bila sesuai dengan sunnah.”

Manusia muslim yang beristiqomah dan yang selalu berkomitmen dengan nilai-nilai kebenaran Islam dalam seluruh aspek hidupnya akan merasakan dampaknya yang positif dan buahnya yang lezat sepanjang hidupnya. Adapun dampak dan buah istiqomah sebagai berikut;

a-Keberanian (Syaja’ah)

Muslim yang selalu istiqomah dalam hidupnya ia akan memiliki keberanian yang luar biasa. Ia tidak akan gentar menghadapi segala rintangan dakwah. Ia tidak akan pernah menjadi seorang pengecut dan pengkhianat dalam hutan belantara perjuangan. Selain itu jugaberbeda dengan orang yang di dalam hatinya ada penyakit nifaq yang senantiasa menimbulkan kegamangan dalam melangkah dan kekuatiran serta ketakutan dalam menghadapi rintangan-rintangan dakwah. Perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 52 di bawah ini;

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

Dan kita bisa melihat kembali keberanian para sahabat dan para kader dakwah dalam hal ini;
-Ketika Rasulullah saw menawarkan pedang kepada para sahabat dalam perang Uhud, seketika Abu Dujanah berkata: “Aku yang akan memenuhi haknya, kemudian membawa pedang itu dan menebaskan ke kepala orang-orang musyrik.” (HR Muslim)
-Pada saat seorang sahabat mendapat jawaban dari Rasulullah saw bahwasanya ia masuk surga kalau mati terbunuh dalam medan pertempuran, maka ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya lagi seraya melempar kurma yang ada di genggamannya kemudian ia meluncur ke medan pertempuran dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan yaitu, syahadah (mati syahid). (Muttafaqun Alaih)
-Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abu Thalib setelah ia menerima bendera Islam dalam peperangan Khaibar sebagai berikut: “Jalanlah, jangan menoleh sehingga Allah SWT memberikan kemenangan kepada kamu.” Lantas Ali berjalan, kemudian berhenti sejenak dan tidak menoleh seraya bertanya dengan suara yang keras; “Ya Rasulullah atas dasar apa aku memerangi manusia?” Beliau bersabda: “Perangi mereka sampai bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah……” (HR Muslim)

Inilah gambaran keberanian para sahabat yang lahir dari keistiqomahannya yang harus diteladani oleh generasi-generasi penerus dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam.

b-Ithmi’nan (ketenangan)

Keimanan seorang muslim yang telah sampai pada tangga kesempurnaan akan melahirkan tsabat dan istiqomah dalam medan perjuangan. Tsabat dan istiqomah sendiri akan melahirkan ketenangan, kedamaian dan kebahagian. Meskipun ia melalui rintangan dakwah yang panjang, melewati jalan terjal perjuangan dan menapak tilas lika-liku belantara hutan perjuangan. Karena ia yakin bahwa inilah jalan yang pernah ditempuh oleh hamba-hamba Allah yang agung yaitu para Nabi, Rasul, generasi terbaik setelahnya dan generasi yang bertekad membawa obor estafet dakwahnya. Perhatikan firman Allah di bawah ini;

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepadamusuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.”(QS 3:146)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”(QS 6:82)

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS 13:28)

c-Tafa’ul (optimis)

Keistiqomahan yang dimiliki seorang muslim juga melahirkan sikap optimis. Ia jauh dari sikap pesimis dalam menjalani dan mengarungi lautan kehidupan. Ia senantiasa tidak pernah merasa lelah dan gelisah yang akhirnya melahirkan frustasi dalam menjalani kehidupannya. Kefuturan yang mencoba mengusik jiwa, kegalauan yang ingin mencabik jiwa mutmainnahnya dan kegelisahan yang menghantui benaknya akan terobati dengan keyakinannya kepada kehendak dan putusan-putusan ilahiah. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh beberapa ayat di bawah ini;

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS 57:22-23)

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.(QS 12: 87)

Ibrahim berkata: “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”.(QS 15:56)

Maka dengan tiga buah istiqomah ini, seorang muslim akan selalu mendapatkan kemenangan dan merasakan kebahagiaan, baik yang ada di dunia maupun yang dijanjikan nanti di akherat kelak. Perhatikan ayat di bawah ini;

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat;di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta.Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS 41:30-32)


Ma’rifatul Rasul

1. 1. MAKNA RISALAH DAN RASUL

Risalah : Sesuatu yang diwahyukan Allah SWT berupa prinsip hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan di akhir
Rosul : Seorang laki-laki (QS. 21:7) yang diberi wahyu oleh Allah yang berkewajiban untuk melaksanakannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia.

2. 2. PENTINGNYA IMAN KEPADA RASUL

Iman kepada para rasul adalah salah satu rukun iman. seseorang tidak dianggap muslim dan mukmin kecuali ia beriman bahwa Allah mengutus para rasul yang menginterprestasikan hakikat yang sebenarnya dari agama islam yaitu Tauhidullah
Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali kepada seluruh rasul dan tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya.

3. 3. TUGAS PARA RASUL

Menyampaikan (tabliq) (QS. 5:67, 33:39) Yang disampaikan berupa :

1. 1. Ma’rifatullah (QS. 6.102) (Mengenal hakikat Allah)
2. 2. Tauhidullah (QS.21:25) (Mengesakan Allah)
3. 3. Basyir wa nadzir (QS. 6:48) (Memberi kabar gembira dan peringatan)

Mendidik dan membimbing (QS. 62:2)
4. SIFAT-SIFAT RASUL
1. Mereka adalah manusia (QS. 17:93-94, 18; 110)
2. Ma’shum (terjaga dari kesalahan) (QS. 3:161, 53: 1-4)
3. Sebagai suri teladan (QS. 33:21, 6:89-90)

4. 5. AKHLAQ ROSULULLAH SECARA UMUM

1. Akhlaq Qur’ani
“ Ditanyakan kepada Aisyah ra tentang akhlaq Rosulullah SAW, maka jawabnya, ‘ Akhlaqnya Qur’ani’ “ (Al Hadits)
Akhlaq Rosululah adalah Al Qur’qn. Karena itu untuk memperoleh gambaran untuk akhlaq beliau perlu memahami Al Quran dan As Sunah atau segala sesuatu yang ada kaitannay dengan pola kehidupan rosulullah.

2. Akhlaq manusia terbaik
Dikatakan oleh Anas ra. Bahwa Rosulullah adalah manusia yang terbaik akhlaqny.
Contoh Akhlaq Mulia Yang Diperintahkan Rosul
a. Jujur
Hadits rosulullah : Sesungguhnya kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebajikan, dan sesungguhnya kebijakan itu akan mengantarkan ke surga. Dan seseorang senatiasa berkata benar dan jujur hingga tercatat di sisi Allah sebgaai orag yang benar dan jujur. Dan sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan, yang akhirnya akan mengantarkan ke dalam neraka. Dan seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhori-Muslim)

b. Dermawan“Tidaklah seorang hamba berada pada suatu pagi kecuali dua malaikat turun menemaninya. Atu malaikat berkata : Ya Allah berilah kanuniaMu, sebagai ganti apa yang ia infaqkan. Malaikat lainnya berkata : Ya Allah, berilah ia kebinasan karena telah mempertahankan hartanya yang tidak dinafkahkannya“ (HR. Muttafaq’alaih)
c. Malu
“Adalah rosulullah SW sagat tinggi rasa maluynya, lebih pemalu dari gadis pingitan. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, kami dapat mengetahui pada wajah Beliau “ (HR. Muslim)
“Iman itu mempunyai 71 atau 81 cabang, dan yang paling utamanya adalah mengucapkan Laa ilaaha illallah dan serendah-rendahnya adalah menyingkirakan duri (gangguan di jalan). Dan sifat pemalu merupakan satu bagian dari iman “ (HR. Muttafaq’alaih)
d. Menepati janji

1. Menutupi aib

Contoh Akhlaq Tercela Yang Diperingatkan Rosul

1. 1. Marah (QS. 3 : 133-134)

“ Dari Abi Hurairah ra. Bahwa seorang laki-laki berkata Nabi SAW : “ Wasiatilah aku “, Sabda nabi : “ Janganlah engkau mudah marah”. Maka diulangi beberapa kali, Sabdanya : “ Janganlah engkau mudah marah” “(HR. Bukhori-Muslim)

2. 2. Ghibah dan Namimah (QS. 49 : 12)
3. 3. Riya (QS. 2 : 264)
4. 4. Sombong (QS. 17 : 37)
5. 5. Zalim

“Hai hgamba-hambaKu, sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman (berbuat za,im) pada didiKu, dan Aku Jadikan sebagai perbuatan haram bagi kalian, maka dari itu janganlah kalian berbuat zalim “ (HR. Muslim)
Apa kata mereka?

Muhammad SAW, manusia yang memperoleh wahyu dan mengembangkan Islam. Ia lahir kira-kira tahun 570 masehi ditengah-tengah masyarakat Arab penyembah berhala. Anak yatim sejak lahir ini senantiasa memperhatikan fakir miskin, para janda, anak yatim piatu, para hamba sahaya, dan kaum tertindas. Pada usia 20 tahun ia telah menjadi seorang pedagang yang berhasil.

Tak lama kemudian ia menjadi pemimpin kafilah unta dari seorang janda kaya. Ketika ia berumur 25 tahun, induk semang yang telah mengenal kebaikan dan jasanya meminta untuk dinikahi, walaupun wanita itu berusia 15 tahun lebih tua darinya. Muhammad menikahinya. dan wanita itu setia pada usia pada suaminya sepanjang hidupnya. seperti halnya nabi sebelumnya, Muhammad merasa tidak lain menerima firman Allah, karena merasa dirinya tidak sempurna. namun malaikat memerintahkan , “ bacalah”. sedang kita tahu bahwa muhammad tidak dapat membaca dan menulis. kemudian malaikat mulai mendiktekan wahyu Allah itu yang kelak membawa perubahan besar dimuka bumi, bahwa “hanya ada satu Tuhan”. dalam segala hal, Muhammad adalah orang yang sangat praktis. Ketika anak yang dicintainya, Ibrahim meninggal, terjadialah gerhana matahari. kemudian timbul desas desus bahwa gerhana tersebut merupakan tanda Tuhan turut berduka cita.. Tetapi Muhammad segera mengumumkan bahwa gerhana adalah salah satu peristiwa alam. Bodoh sekali orang yang mengkaitkan peristiwa ini dengan kematian seorang manusia.

Pada saat Muhammad wafatpun, muncul usaha usaha untuk mendewakan beliau tapi salah satu sahabatnya, yang kemudian menjadi khalifah sepeninggalnya, berhasil menghentikan kekeliruan ini dan mengatasinya dengan ucapannya yang sangat terkenal dalam sejarah : “ jika ada diantara kamu yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah mati, tetapi jika Allah yang kamu sembah, maka Dia hidup selamanya”
(james A. Michiner, The Missunderstood Religion, in the Rider’r Digest, American Edition, May, 1955, p. 68-70)

“Pilihan saya pada Muhammad untuk diletakkan pada peringkat diatas dari urutan orang-orang yang berpengaruh didunia boleh jadi mengejutkan sebagian pembaca dan membuat oranglain bertanya-tanya. tetapi ia adalah satu satunya manusia dalam sejarah yang meraih sukses yang begitu tinggi, baik dalam bidang agama maupun dalam bidang keduniaan.
( Michael H. Hart, The 100: A Rangking of the Most influential Persons in History)
MAROJI’


Ma’rifatul al-Qur’an

Objektif
a.Memahami definisi AI Qur’an dan dapat menunjukkan kelebihan-kelebihannya berdasarkan definisi tersebut.
b.Termotivasi untuk sentiasa membaca AI Qur’an dalarn rangka beribadah kepada Allah
AI-Quran adalah kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad s.a.w yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah
Hasiyah
Apabila disebut nama al-Quran, ia mengandungi beberapa hakikat yang berikut:
1. Kalamullah
Syarah
a Kalam adalah wasilah untuk menerangkan sesuatu di dalam diri dengan ilmu pengetahuan, nasihat atau berbagai kehendak Ialu memahamkan perkara itu kepada orang lain. Tentu sekali Allah bersifat dengan sifat kalam. Tersebut di dalam al-Ouran bahwa Allah berbicara dengan Nabi Musa dan al-Quran sendirl telah menerangkan bahwa al-Quran itu adalah kalam Allah. Maka kalam yang didengar dari Allah itu sudah pasti menjadi salah satu sifat dan juga keadaan yang ada pada Allah.
* Kitab-ktab yang telah diturunkan oleh Allah kepada para Nabi a.s adalah menjadi di antara fenomena bahwa Allah s.w.t bersifat dengan sifat Kalam. Allah s.w.t telah berbicara dengan setengah nabinya seperd Musa dan Muhammad pada malam mi’raj dan Allah akan berbicara dengan banyak lagi hambanya pada hari kiamat.
Adapun hakikat kalam itu sebagai sifat Allah , kita tidak mengetahui bagaimanakah keadaannya. Yang kita percaya bahwa Dia tidak sebagaimana kalam makhluk dari segi lafaz yang keluar dari celah kedua bibir dan juga lidah yang dikawal oleh paru-paru, kerongkong dan juga gigi. ‘tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia.
Allah bercakap kepada siapa yang dikehendaikinya dari kalangan hambanya, malaikat
maupun yang lainnya.
Dalil
a (53:4) : Allah s.w.t telah menceritakan kepada kita bahwa al-Quran itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepada Nab Muhammad s.a.w.
2. Mukjizat
Syarah
* AI-Quran yang merupakan kalamullah itu adalah mukjiizat yang cukup hebat, tetap dan kekal walaupun melalui peredaran zaman. Mukjizat ini diakui oleh para cendikiawan dahulu dan juga sekarang. Sampai saat ini pun al-Quran masih menjadi sumber rujukan utama kepada para pengkaji baik dalam ilmu sosial, sains, bahasa dan lain-lainnya. Tidak pernah ada satu kitabpun sebelum ini yang membawa penyataan-penyataan yang boleh dijadikan bahan kajian beratus tahun. Dalam bidang bahasa, pakar-pakar bahasa Arab dari zaman dahulu hingga sekarang tetap menjadikan al-Quran sobagai rujukan. Begitu juga dalam bidang astronomi, kaji bumi, ilmu perbidanan dan sebagainya.
Mukjizat al-Quran juga mencabar jin dan juga manusia. Mencabar dari segi membuat sesuatu yang seumpama al-Quran ataupun mencabar dari segi kemampuan mencipta sesuatu seperti cabaran supaya manusia berkumpul untuk menciptakan seekor Ialat, dijawab oleh al-Quran bahawa mereka semuanya tidak akan mampu.
Mukjizat yang menjadikan semua pendukung kesesatan dan ekstremes nafsu terduduk membisu kerana hakikat yang dinyatakan oleh al-Quran itu adalah benar dan hakikat semuanya yang tidak akan mampu sama sekali pendukung hawa dan kesesatan untuk
berhujjah di hadapan al-Quran.
* Allah telah menjadikan al-Quran sebagai basahan hati kepada rnereka yang mempunyai penglihatan dan makrifat. Mukmin akan merasa tenang dan hampir diri dengan kebenaran apa bila mendampingi al-Quran kerana hakikat diri manusia yang lemah diceritakan oleh AlIah dan hakikat pergantungan sebenar manusia adalah kepada yang benar-benar berkuasa. Tidak ada kuasa lain yang mengatasi kudrat dan kemampuannya. Oleh itu isi al-Quran membawa keceriaan kepada mukmin dan takutkan kepada azab neraka.
* Mukjizat al-Quran ini tidak menjadi usang lantaran penolakan berterusan oleh golongan yang tidak beriman dan juga peredaran masa . Ini kerana apa yang dikandung oleh al-Quran adalah merupakan thawabit dalam sistem pemerintahan dan kejadian alam seluruhnya. Manusia yang dangkal pemikrannyanya berusaha menolak al-Quran kerana merasakan al- Qu.ran itu bertentangan dengan kehendak dan keinginan nafsunya. Sememangnya tuntutan nafsu ini adalah kontradiktif dengan tuntutan asal manusia dijadikan. Oleh itu mereka tidak akan mampu menolak thawabit yang telah diciptakan oleh Allah s.w.t. –
* Mukjizat ini tetap dijaga oleh Allah seperti yang dijanjikan olehnya di dalam al-Quran (15: 9) Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan az-Zilwa (al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya.
Dalil
* (2:23) Allah mencabar manusia, jika mereka meragukan al-Quran yang Allah turunkan coba buatkan satu surah yang lain seumpamanya dengan membawa saksi-saksi selain dari Allah jika mereka adalah pihak yang benar!
* (11:14) jika mereka tidak memperkenankan permintaan kamu, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan pengetahuan Allah dan bahwa tidak ada tuhan selain Dia. Adakah kamu orang-orang muslimin patuh mengikutinya!
(17:88) Sekali lagi Allah mencabar bahwa jika manusa dan jin berhimpun untuk mengadakan sesuatu seumpama al-Quran, nescaya mereka tidak akan mampu berbuat demilkian.
3. Diturunkan kepada hati Nabi Muhammad s.a.w
Syarah
* Allah s.w.t telah menurunkan al-Quran ini secara langsung kepada Nabi Muhammad s.a.w melalui utusannya jibril a.s. Kisah penerimaan wahyu pertama oleh Baginda di Gua Hira’ mengisyaratkan betapa beratnya urusan itu diterima sehingga beberapa kali dipeluk oleh jibril dan Baginda menggigil kesejukan. Proses penurunan itu ditangani langsung oleh jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. Setiap ayat yang diturunkan dihafal oleh baginda sehingga sempurna sebuah al-Quran.
Dalil
.c (26:192-195) Sesungguhnya al-Quran itu diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Diturunkan oleh ruh yang suci (Jibril). Kedalam hati engkau (Ya Muhammad) supaya engkau memberi peringatan. Dengan Bahasa Arab yang terang.
4. Di sampaikan secara mutawatir sehingga terpelihara asolahnya Syarah
• AI-Quran yang diturunkan kepada Rasulullah s.a.w adalah sebagai petunjuk kepada manusia. Oleh itu apabila wahyu itu sampai kepada Rasulullah, baginda terus menyampaikan kepada para sahabat terutama golongan huffaz yang bertugas menghafal wahyu-wahyu dan ditulis oleh para sahabat yang ditugaskan khusus yang sentiasa ternanti-nanti sesuatu yang baru.
• AI-Quran yang diturunkan itu ditulis dengan arahan dari Nabi s.a.w di atas pelepah- pelepah tamar, tulang-tulang, kulit-kulit binatang dan sebagainya mengikut tertib penurunannya. Di kalangan sahabat ada yang membuat salinan khusus untuk simpanan sendiri dari Rasulullah s.a.w. Pada zaman Abu Bakar, Zaid bin Thabit telah dipertanggungjawabkan mengumpul al-Quran ke dalam satu mashaf setelah bermusyawarh dengan Umar. Pada zaman Uthman, mashaf pertama telah ditulis berdasarkan naskhah yang tersimpan pada Hafsah binti Umar yang telah dikumpulkan oleh Abu Bakar. Zaid bin Harithah, Abdullah bin Az-Zubair, Said bin AI-‘Ash dan Abdul Rahman bin AI-Harith telah ditugaskan untuk melaksanakan tugas itu dengan meraikan apa-apa perbezaan yang ada. Uthman menyimpan satu naskah, manakala yang lain dihantar ketempat-tempat lain. Sehingga ke hari ini mushaf ini dikenal sebagai mushaf utsmani.

5. Membacanya adalah ibadat
Syarah
Membaca al-Quran adalah nembaca kalamullah yang mengandung berbagai jenis petunjuk dari Allah s.w.t untuk kepentingan manusia. Oleh itu membaca al-Quran adalah ibadah yang dituntut kepada manusia melakukannya. Apabila kita membaca al-Ouran, Allah menjanjikan ganjaran yang cukup besar dan kelebihan-kelebihan yang tiada tandingannya.
Dalil
(35:29-30) Orang-orang yang membaca al-Quran, bersolat dan bernafkah harta, Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambahi kepada mereka dengan karunia-Nya.
Hadith riwayat Aisyah, baginda bersabda: Orang yang membaca al-Quran sedangkan dia seorang yang lancar, maka dia akan bersama dengan malaikat safarah yang menghitung amalan kebaikan lagi yang berbuat kebajikan. Manakala sesiapa yang membaca al-Quran dalam keadaan tergagap-gagap dan sukar, maka dia akan memperoleh dua ganjaran. – riwayat Bukhan dan Mushin.
Haditli riwayat Abu Musa al-Asya’ari: Orang mukmin yang men-ibaca al-Quran umpama citron (sejenis limau). Baunya harwn dan rasanya lazat. Orang mukmin yang tidak membaca al-Quran umpama buah kurma. la tidak mempunyai bau tetapi rasanya sedap dan manis. Orang munafiq yang membaca al-Quran umpama buah raihanah, baunya sedap tetapi rasanya pahit. Orang munafiq yang tidak membaca al-Quran umpama petola, ia tidak mempunyai bau dan rasanya pahit. – riwayat Bukhari dan Muslim
* Hadith riwayat Abu Umamah al-Bahili: Bacalah al-Quran, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada tuannya. – riwayat Muslim
Ringkasan Dalil

* AI Qur’an adalah kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Muhammad SAW yang disampaikan kepada kita secara rnutawatir dan membacanya merupakan ibadah
*AI Qur’an: kalam Allah (53:4), mukjizat (2:23, 11:14, 17:18, hadits), diturunkan kepada hati Muhammad SAW (26:192-195), disampalkan secara mutawatir sehingga terpelihara asholahnya (hadits), membacanya adalah ibadah (hachts).


Ma’rifatul Insan

Sasaran :

* Memahami pengertian manusia sebagai makhluq yang terdiri dari ruh dan jasad yangdimuliakan oleh Allah dengan tugas ‘ibadah dan kedudukan sebagai khilafah di muka bumi.
* Memahami potensi dan kelebihan manusia dari pada makhluq lainnya pada hati, akal dan jasadnya.

Sinopsis :
Manusia adalah makhluq Allah yang terdiri dari ruh dan jasad yang dilengkapi dengan potensi dan kelebihan dibandingkan makhluq lainnya, yaitu hati, akal dan jasadnya. Dengan hati manusia dapat ber’azam, denga akal dapat berilmu dan dengan jasad manusia dapat beramal. Kelebihan dan kemuliaan manusia ini disediakan oleh Allah untuk menjalankan amanah yaitu ‘ibadah dan khilafah di muka bumi. Peranan dan tugas yang diamalkan ini akan mendapatkan balasan yang setimpal.

Hasiyah :

* Manusia (insan)
* Dalil : tanah (QS. 32 : 7-8, 15 : 28), ruh (QS. 32 : 9, 15 : 29)
* Hati (qalb)
* Dalil : manusia membentuk kemauan/keputusan berdasarkan keyakinan (QS 17 :36), kehendak (QS. 18 : 29). Kebebasan memilih (QS. 90 : 10)
* Akal
* Dalil : mampu membentuk pengetahuan (QS. 17 : 36, 67 : 10)
* Jasad
* Dalil : untuk beramal (QS. 9 : 105)
* Amanah
* Dalil : manusia diberi amanah untuk menjalankan ibadah (QS. 83 : 72) & fungsi kekhilafahan (QS. 2 : 31).
* Balasan
* Dalil : manusia menerima balasan pahala (QS. 84 : 25, 16 : 97, 95 :8)

E.2. HAKIKATUL INSAN

Sasaran :

* Memahami kedudukan manusia sebagai makhluq yang lemah dan bagaimana dengan kelemahan itu dapat digapai kemuliaan.
* Memahami tugas yang dibebankan kepada manusia, pilihan yang benar dalam tugas tersebut dan tanggung jawab bagi pelaksanaannya atau pengingkarannya.

Sinopsis :
Hakikat manusia – menurut Allah selaku Khaliq – adalah sebagai makhluq, dimuliakan, diberikan beban, bebas memilih dan bertanggung jawab. Manusia sebagai makhluq bersifat fitrah : lemah, bodoh dan faqir.
Manusia diberikan kemuliaan karena mamiliki ruh, keistimewaan dan ditundukkannya alam baginya. Manusia juga dibebankan Allah swt untuk beribadah dan menjalankan peranan sebagai khalifah di bumi yang mengatur alam dan seisinya.
Manusia pada hakikatnya diberikan kesempatan memilih antara beriman atau kafir, tidak seperti makhluq lainnya yang hanya ada satu pilihan saja yaitu hanya berislam. Manusia bertanggung jawab atas pelaksanaan bebanan yang diberikan baginya berupa : surga bagi yang beramal islami atau neraka bagi yang tidak beramal islami.

Hasiyah :
Hakikat manusia :

* Yang diciptakan.
* Dalil : berada dalam fitrah (QS. 30 : 30), bodoh (QS. 33 : 72), lemah (QS. 4 : 28) dan fakir (QS. 35 : 15).
* Yang dimuliakan
* Dalil : ditiupkan ruh (QS. 32 : 9), memiliki keistimewaan (QS. 17 : 70), ditundukkannya alam baginya (QS. 45 : 12, 2 : 29, 67 : 15).
* Yang menanggung beban
* Dalil : ibadah (QS. 51 : 56), khilafah (QS. 2 : 30, 11 : 62).
* Yang bebas memilih
* Dalil : bebas memilih iman atau kufur (QS. 90 : 10, 76 : 3, 64 : 2, 18 : 29).
* Yang mendapat balasan
* Dalil : bertanggung jawab (QS. 17 : 36, 53 : 38-41, 102 : 8), berakibat syurga (QS. 32 : 19, 2 : 25, 22 : 14) atau neraka (QS. 32 : 20, 2 : 24).

E.3. TOKOH INSAN

Sasaran :

* Memahami bahwa potensi pendengaran, penglihatan dan hati (akal) akan dimintai pertanggungjawaban dalam melaksanakan ibadah.
* Memahami bahwa melaksanakan tugas ibadah akan mempertahankan posisi kekhilafahannya.
* Memahami dan menyadari bahwa khianat/tidak melaksanakan tugas ibadah akan berakibat kepada diri sendiri

Sinopsis :
Potensi manusia yang terdiri dari pendengaran, penglihatan dan hati (akal) merupakan instrumen yang diberikan oleh Allah untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dibebankanNya. Sebab dengan semuanya itu manusia dapat memperoleh kelebihan-kelebihan sehingga dapat menjalankan amanah : beribadah dan manjalankan fungsi kekhilafahan. Dengan kekhilafahan ini, manusia mendayagunakan potensinya tersebut untuk membimbing alam. Bagi mereka yang khianat terhadap segenap potensi yang diberikanNya tersebut, ia akan mendapat kerugian dan Allah swt memberi julukan kepada mereka : bagaikan hewan ternak, seperti anjing, seperti monyet, seperti babi, seperti kayu, seperti batu, seperti laba-laba dan seperti keledai.

Hasiyah :

* Potensi manusia
* Dalil : pendengaran, penglihatan dan hati (akal)
* Mas’uliyah
* Manusia dengan segenap potensi dan kelebihan-kelebihan harus bertanggung jawab dan menyadari perannya. Tugas/amanah yang dibebankan sebagai refleksi atas potensi dan kelebihan-kelebihan yang telah diterimanya itu adalah beribadah, tetapi tidak semua manusia bersedia menerima amanah ini dan sebagian menolaknya.
* Dalil : dengan ketiga potensi dan kelebihan-kelebihan lainnya manusia mendapat tugas beribadah (QS. 2 : 21, 51 : 56)
* Khilafah
* Bagi yang menyadari potensi-potensi yang telah diberikan dan beribadah kepada Allah (berislam) maka status khilafah disandangnya. Khilafah bukan berarti pemilik asal, tetapi ia hanya bertindak selaku pemelihara alam yang Allah telah ciptakan. Maka mendayagunakan alam dan menjalankan fungsi kekhilafahan harus selaras dengan kehendak Sang Pemilik Alam dan tidak menentangNya.
* Dalil :
* menjadikan kewajiban, bersikap amanah, memperoleh kedudukan khilafah (QS. 24 : 55, 48 : 29)
* makna khilafah bukan berarti pemilik asal, tetapi hanya pemelihara (QS. 35 : 13, 40 : 24-25, 53)
* mendayagunakan alam dan menjalankan fungsi kekhilafahan harus selaras dengan kehendak Sang Pemilik Alam (QS. 76 : 30, 26 : 68)
* tidak menentang terhadap aturanNya (QS. 100 : 6-11)
* Lalai
* Mereka yang lalai tidak menyadari potensi yang telah diberikan kepadanya dan tidak bertanggung jawab, akan mendapatkan kerugianyang amat besar, bahkan dianggap setara dengan makhluq yang lebih rendah derajatnya; tidak bernilai di sisi Allah swt.
* Dalil : lalai dari kewajiban, bersikap khianat berarti
* bagaikan hewan ternak (QS. 7 : 179, 45 : 2, 25 : 43-44)
* seperti anjing (QS. 7 : 176)
* seperti monyet (QS. 5 : 60)
* seperti babi (QS. 63 : 4)
* seperti kayu (QS. 2 : 74)
* seperti batu (QS. 29 : 41)
* seperti laba-laba (QS. 62 : 5)
* seperti keledai

E.4. NAFSUL INSAN

Sasaran :

* Memahami kedudukan ruh dan hawa nafsu yang mempengaruhi jiwa manusia hingga menimbulkan kondisi-kondisi kejiwaan.
* Memahami bahwa dzikir, akal atau syahwat dapat menimbulkan tiga nafsu jiwa : muthmainnah, lawwaamah dan amarah.
* Termotivasi untuk meningkatkan keimanan dan ruhul jihad sehingga menggapai nafsu muthmainnah.

Sinopsis :
Nafsu manusia senantiaa berubah-ubah bergantung kepada sejauh mana kekuatan ruh saling tarik dengan hawa nafsu. Pertempuran selalu berlaku bagi keduanya. Manusia yang ruh (islam)nya dapat menekan hawa nasunya dengan dzikrullah, maka ia memiliki nafsul muthma’innah.


Makna Ilah

Sinopsis
Kalimat Laa ilaaha ilaLlah tidak mungkin difahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu ma’na ilah yang berasal dari ‘aliha’ yang memiliki berbagai macam pengertian. Dengan memahaminya kita mesti mengetahui motif-motif manusia mengilahkan sesuatu.

Ada empat makna utama dari aliha iaitu sakana ilahi, istijaaro bihi, asy syauqu ilaihi dan wull’a bihi. Aliha bermakna abaduhu (mengabdi/menyembahnya), kerana empat perasaan itu demikian mendalam dalam hatinya, maka dia rela dengan penuh kesedaran untuk menghambakan diri kepada ilah (sembahan) tersebut.

Dalam hal ini ada tiga sikap yang mereka berikan terhadap ilahnya iaitu kamalul mahabah, kamalut tadzalul, dan kamalut khudu’. Al ilah dengan makrifat iaitu sembahan yang sejati hanyalah Allah sahaja, sedangkan selain Allah adalah bathil.

Maka pengertian-pengertian ma’na ilah di atas hanyalah hak Allah sahaja, tidak boleh diberikan kepada selainNya. Dalam menjadikan Allah sebagai Al Illah terkandung empat pengertian iaitu al marghub, al mahbub, al matbu’, dan al marhub. Al ma’bud merupakan sesuatu yang disembah secara mutlak. Kerana Allah adalah satu-satunya Al Ilah, tiada syarikat kepadaNya, maka Dia adalah satu-satunya yang disembah dan diabdi oleh seluruh kekuatan yang ada pada manusia.

Pengakuan Allah sebagai Al Ma’bud dibuktikan dengan penerimaan Allah sebagai pemilik segala loyalti, pemilik ketaatan, dan pemilik hukum.

Hasiyah
1.Aliha
Syarah

* Mereka tenteram kepadanya (sakana ilaihi) iaitu ketika ilah tersebut diingat-ingat olehnya, ia merasa senang dan manakala mendengar namanya disebut atau dipuji orang ia merasa tenteram.
* Merasa dilindungi oleh-Nya (istijaaro bihi), kerana ilah tersebut dianggap memiliki kekuatan ghaib yang mampu menolong dirinya dari kesulitan hidup.
* Merasa selalu rindu kepadanya (assyauqu ilaihi), ada keinginan selalu bertemu dengannya, samada berterusan atau tidak. Ada kegembiraan apabila bertemu dengannya.
* Merasa cinta dan cenderung kepadanya (wull’a bihi). Rasa rindu yang menguasai diri menjadikannya mencintai ilah tersebut, walau bagaimanapun keadaannya. Ia selalu beranggapan bahawa pujaannya memiliki kelayakan dicintai sepenuh hati.

Dalil

* Perkataan orang Arab: ‘saya merasa tenteram kepadanya’, ‘si fulan meminta perlindungan kepadanya’, ‘si fulan merasa rindu kepadanya’, ‘anak itu cenderung kepada ibunya’.
* 10:7-8, manusia yang mengilahkan kehidupan dunia merasa tenteram dengan hidup dunia. 7:138, bani Israel yang bodoh menghendaki adanya ilah yang dapat menenteramkan hati mereka.
* 72:6, manusia memperilah jin dengan meminta perlindungan kepadanya. 36:74-75, orang-orang musyrik mengambil pertolongan dari selain Allah padahal semuanya tidak dapat menolong kita, lihat 7:197.
* 2:93, 20:91, bani Israel larut dalam kerinduan yang berlebihan terhadap ijla (anak lembu) yang dijadikannya ilah. 26:71, para penyembah berhala sangat tekun melakukan pengabdian kerana selalu rindu padanya.
* 29:25, berhala-berhala adalah menyatukan bangsa yang sangat disenangi oleh orang-orang musyrik. 2:165, tandingan (andad) merupakan sembahan-sembahan selain Allah yang dicintai oleh orang-orang musyrik sama dengan mencintai Allah kerana mereka sangat cenderung atau dikuasai olehnya.

2.Abadahu
Syarah

* Dia amat sangat mencintainya (kamalut mahabbah), sehingga semua akibat cinta siap dilaksanakannya. Maka diapun siap berkorban memberi loyalti, thaat dan patuh dan sebagainya.
* Dia amat sangat merendahkan diri di hadapan ilahnya (kamalut tadzulul). Sehingga menganggap dirinya sendiri tidak berharga, sedia bersikap rendah serendah-rendahnya untuk pujaannya itu.
* Dia amat sangat tunduk, patuh (kamalul khudu’). Sehingga akan selalu mendengar dan thoat tanpa reserve, serta melaksanakan perintah-perintah yang menurutnya bersumber dari sang ilah.

Dalil

* Perkataan orang Arab aliha adalah abadahu. Seperti aliha rajulu ya-lahu (lelaki itu menghambakan diri pada ilahnya)
* 39:45, orang kafir yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai ilahnya demikian senangnya apabila mendengar nama kecintaannya serta tidak suka apabila nama Allah disebut. Hadits, sabda Rasulullah SAW, ‘Celakalah hamba dinar (wang emas), celakalah hamba dirham (wang perak), celakalah hamba pakaian (mode). Kalau diberi maka ia redha, sedangkan apabila tidak diberi maka iaakan kesal. Ini disebabkan kecintaan yang amat sangat terhadap barang-barang tersebut.
* 36:60, orang-orang kafir pada hakikatnya mengabdi kepada syaithan yang memperdaya mereka. 6:137, orang-orang kafir demikian patuhnya sehingga bersedia membunuh anak-anaknya untuk mengikuti program ilah-ilah sembahannya.

3.Al Ilah
Syarah

* Al Marghub iaitu dzat yang sentiasa diharapkan. Kerana Allah selalu memberikan kasih sayangNya dan di tangan-Nyalah segala kebaikan.
* Al Mahbub, dzat yang amat sangat dicintai kerana Dia yang berhak dipuja dan dipuji. Dia telah memberikan perlindungan, rahmat, dan kasih sayang yangberlimpah ruah kepada hamba-hambaNya.
* Al Matbu’ yang selalu diikuti atau ditaati. Semua perintahNya siap dilaksanakan dengan segala kemampuan sedang semua laranganNya akan selalu dijauhi. Selalu mengikuti hidayah atau bimbinganNya dengan tanpa pertimbangan. Allah sahaja yang sesuai diikuti secara mutlak, dicari dan dikejar keredhaan-Nya.
* Al Marhub, sesuatu yang sangat ditakuti. Hanya Allah sahaja yang berhak ditakuti secara syar’i. Takut terhadap kemarahanNya, takut terhadap seksa-Nya, dan takut terhadap hal-hal yang akan membawa kemarahanNya. Rasa takut ini bukan membuat ia lari, tetapi membuatnya selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Dalil

* 2:163-164, Allah adalah ilah yang esa tiada ilah selain Dia, dengan rahmat dan kash sayangNya yang teramat luas.
* 2:186, 40:60, 94:7-8. Hanya Allahyang sesuai diharap kerana Ia maha memberi atau mengabulkan do’a hambaNya. 21:90-91, orang-orang mukmin menghambakan diri kepada Allah dengan harap dan cemas.
* 2:165, Allah adalah kecintaan orang yang mukmin dengan kecintaan yang amat sangat. 8:2, sehingga ketika disebut nama Allah bergetar hatinya. 9:24, Allah berada di atas segala kecintaan.
* 51:50, perintah Allah untuk bersegera menuju Allah kerana hanya Allah sahaja yang sesuai diikuti. 37:99, menuju Allah untuk memperoleh bimbingan dan hidayahNya untuk diikuti.
* 2:40, 9:13, 33:39, hanya Allah sahaja yang sesuai ditakuti dengan mendekatkan diri kepadaNya.

4.Al Ma’bud
Syarah

* pemilik kepada segala loyaliti, perwalian atau pemegang otoriti atas seluruh makhluk termasuk dirinya. Dengan demikian loyaliti mukminin hanya diberikan kepada Allah dengan kesedaran bahawa loyaliti yang diberikan pada selainNya adalah kemusyrikan.
* Pemilik tunggal hak untuk ditaati oleh seluruh makhluk di alam semesta. Mukmin meyakini bahawa ketaatan pada hakikatnya untuk Allah sahaja. Seorang mukmin menyedari sepenuhnya bahawa mentaati mereka yang mendurhakai Allah adalah kedurhakaan terhadap Allah.
* Pemilik tunggal kekuasaan di alam semesta. Dialah yang menciptakan dan berhak menentukan aturan bagi seluruh ciptaanNya. Maka hanya hukum dan undang-undangNya sahaja yang adil. Orang mukmin menerima Allah sebagai pemerintah dan kerajaan tunggal di alam semesta dan menolak kerajaan manusia.

Dalil

* 109:1-6, pernyataan mukmin bahawa pengabdiannya hanya untuk Allah sahaja dan sekali-kali tidak akan mengabdi selainNya. 16:36, Rasul diutus dengan risalah pengabdian pada Allah sahaja dan menjauhi segala yang diabdi selain Allah. 2:21, perintah Allah untuk mengabdi kepadaNya sahaja dengan tidak mengambil selain Allah sebagai tandingan-tandingan.
* 7:196, pernyataan mukmin bahawa wali (pemimpin) nya hanya Allah sahaja. 2:257, berwalikan kepada Allah melepaskan manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
* 7:54, hak menciptakan dan hak memerintah hanyalah milik Allah. mukmin hanya mengakui kerajaan Allah. hadits, mukmin hanya akan taat pada sesuatu yang diizinkan Allah, Rasul dan ulil amri. Mukmin tidaklah akan mentaati perintah maksiyat kepada Allah.
* 12:40, hak menentukan hukum dan undang-undang hanyalah hak Allah. 24:1, Allah mewajibkan manusia melaksanakan hukum-hukumNya. 5:44, 45, 47 mereka yang menolak aturan atau hukum Allah adalah kafir, zalim dan fasik. Ini ertinya pemerintahan Allah sahaja yang boleh tegak sedang pemerintahan manusia adalah batil.

Ringkasan

* Kandungan makna (aliha, ya-lahu, Ilahan):

– Merasa tenang padanya (10:7)
– Selalu rindu padanya (7:138)
– Melindungi diri padanya (72:6)
– Mencintainya (2:165)

* (Aliha) membawa erti (Abadahu):

– Sempurna mencintai
– Sempurna menghinakan diri
– Sempurna menundukkan diri

* Kandungan kata (Al-Ilah):

– Yang diharapkan
– Yang diikuti
– Yang ditakuti
– Yang dicintai

* (al-Ilah):

– Yang layak diberikan kepadanya wala’
– Yang wajib diberikan kepadanya ketaatan
– Yang wajib diberikan kepadanya authoriti


my day

hari ini aku wawancara beasiswa fakultas,,
aku sangat berharap mendapatkan beasiswa itu,,berapa pun jumlahnya,,

aku sangat ingin membantu orang tua ku yang sudah tua,,
aku sangat tidak ingin merepotkan mereka,,

ya Allah bantu aku,,
apa kah aku mendapatkan karma karena telah menolak beasiswa full??
sehingga sekarang aku tidak mendapatkan beasiswa sama sekali??

ya Allah berikanlah kemurahan rezekimu kepadaku..
Amin!!


isenk aja

assalamu’alaikum

temen2 ini blog aku yang terbaru..

insya Allah aku akan menuliskan apa yang aku rasa di blog ini..

semoga bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk diriku n juga temen2 yang baca..supaya ga sia-sia gitu..

masa uda berkunjung tapi ga dapet apa2..hehehe..

temen2 jangan lupa ngasih komen ya..

otre!!